Fotografi digital membawa perubahan dalam beberapa rangkaian proses memotret. Sesaat setelah memencet rana, hasilnya bisa langsung di
review melalui LCD. Tidak perlu lagi proses cuci film yang memakan waktu. Dari kamera, foto kemudian masuk komputer guna penyimpanan, manajemen maupun
editing. Saat ini, kerja
darkroom sudah hampir sebagian besar digantikan komputer dengan
software pengolah fotonya.
Kemudahan fotografi digital bukannya tanpa tantangan. Teknologi yang seolah tanpa batas mendatangkan permasalahan, khususnya berkenaan dengan etika pemotretan maupun pengolahan foto di beberapa genre. Keleluasaan mengolah foto memunculkan pertanyaan sekaligus interpretasi berbeda tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada gengre tertentu.
Sebagai contoh, kita simak aturan yang berkenaan dengan pengolahan foto pada beberapa kompetisi foto di Indonesia sebagai berikut:
"olah digital yang diperkenankan sebatas pengaturan level, hue/saturation, brigtness/ contrast dan croping. Menggabungkan dua foto atau lebih serta mengurangi maupun menambahkan elemen lain dalam foto yang dapat merubah isi foto tidak diperkenankan"Walaupun sudah cukup detail, saya masih sering mendengar pertanyaan seperti ini: apakah
dodge/ burning boleh? apakah
adjusment curve boleh? apakah
adjusment white balance boleh? berapa persen boleh mencrop? apakah crop tindakan mengurangi elemen foto? apakah
layeringdan
masking boleh?
Pada lomba, kebingungan sering terjadi pada peserta, namun kadangkala panitia dan juri juga tidak mengerti dan tidak bisa memberikan jawaban pertanyaan diatas. Analisa saya (bisa saja salah), hal ini terjadi karena tidak ada sumber pengetahuan baku yang bisa menjadi acuan mengenai standar pengolahan foto. Baik pengolahan dasar maupun lanjut. Begitupula standar olah digital pada industri fotografi.
Sering terjadi perdebatan antara mereka yang
purist dengan mereka yang menganggap bahwa kekakuan aturan justru mengekang kebebasan dan kreativitas. Hal ini sering terjadi pada genre jurnalistik dan nature. Walau demikian, jika kita sadari, foto sendiri sejak awal sudah merupakan interpretasi fotografer atas subjek yang difoto. Mulai dari pemilihan subjek, angle, momen, 'mengcrop', komposisi, teknik pemotretan, dsb.
Contoh lain
aturan pengolahan foto bisa kita lihat pada kompetisi World Press Photo. Lomba sekelas WPP ternyata tidak menjelaskan secara rinci dan justru terkesan
gamang. Coba baca aturan terbaru mereka yang berlaku mulai tahun 2010 berikut::
"The content of the image must not be altered. Only retouching which conforms to currently accepted standards in the industry is allowed. The jury is the ultimate arbiter of these standards and may at its discretion request the original, unretouched file as recorded by the camera or an untoned scan of the negative or slide."Kalau aturan detail lomba foto Indonesia saja masih menyisakan pertanyaan, apalagi aturan WPP tersebut. Standar industri yang bagaimana? siapa yang menetapkan standar industri? dsb
Diatas sekelumit tentang olah digital dengan problem-problem yang muncul. Pada topik ini saya tidak berbagi tentang apa yang boleh dan apa yang tidak. Saya juga tidak akan membahas standar industri fotografi. Saya coba berbagi hal yang lebih sederhana dan dasar ketika kita akan mulai mengolah foto.
Hal yang selalu harus kita pegang dalam berkarya adalah bahwa fotografi yang baik menyangkut bagaimana seorang fotografer melakukan rekognisi dan merespon subjek saat memotret bukan di komputer. Jadi foto yang anda buat harus sudah benar dulu sedari awal sesuai yang anda inginkan.
Lalu pertanyaannya, jika sudah benar, apa yang perlu kita lakukan lagi di komputer? Olah digital berperan untuk memaksimalkan potensi foto guna memperbesar peluang tercapainya tujuan yang ingin disampaikan fotografer kepada pemirsa. Hanya bedanya, dulu pengerjaanya dilakukan di
darkroom sekarang di komputer. Intinya tetap sama kita membuat foto yang sudah baik menjadi lebih baik.
Berdasarkan pengetahuan dan pengalaman saya mengolah foto. Maka olah foto saya bagi dalam dua kategori sebagai berikut:
OLAH DIGITAL DASAR yang saya lebih senang sebut
Digital Enhancement:
- Memperbaiki
exposure & warna secara keseluruhan:
level, curve, brightnees/contrast, hue/saturation dan
white balance.- Memperbaiki tampilan foto secara keseluruhan:
croping, sharpening & dodge/ burning.
OLAH DIGITAL LANJUT yang saya sebut
Digital Manipulation:
- Memperbaiki
exposure dan warna bagian tertentu.
- Mengurangi atau menambah elemen foto dengan clone, stamp, dsb
- Mengabungkan dua foto atau lebih.
- Penambahan elemen grafis, pemakaian filter, dsb.
- dll
Walau demikian, pembagian tersebut tidaklah baku. Sebagai contoh, membersihkan bercak kotoran sensor di gambar dengan clone stamp masih dianggap bagian olah digital dasar oleh beberapa fotografer.
Dari pengalaman saya, hampir 70% hasil pemotretan masih tampak mentah atau belum memberikan hasil akurat sesuai keinginan. Butuh kondisi pemotretan yang sempurna dan sangat terkontrol untuk mendapatkannya. Pada kenyataanya, banyak variabel yang berubah-ubah ketika memotret sehingga selalu ada ruang ketidakakuratan. Nah, hal inilah yang akan kita coba perbaiki.
Sebagai contoh, perhatikan tahapan pengolahan foto yang saya lakukan dibawah. Saya menggunakan program PS CS 3, tips cepat menguasi program pengolah foto biasa anda lihat pada artikel saya sebelumnya
disini.Sebelum memulai, pastikan monitor anda sudah terkalibrasi baik. Cara paling sederhana dengan melihat apakah pada gambar dibawah sudah terdapat 21 kolom gradasi warna dari hitam ke putih? jika belum ikuti petunjuk kalibrasi monitor anda.
Gambar 1. Terdapat 21 kolom gradasi warna dari hitam hingga putih. Pastikan anda bisa melihat semuanya. Langkah pertama olah digital dasar yaitu membaca histogram foto. Memang terasa rumit pada awalnya, tapi jika sudah mengerti prinsipnya, anda akan sangat terbantu nanti. Histogram memberi petunjuk tentang
exposurefoto yang bermanfaat ketika hendak melakukan koreksi pada saat memotret atau mengolah foto di komputer.
Pilihan
mood foto berkenaan dengan saturasi warna dan gelap terang menyangkut rasa personal. Apakah mau kontras tinggi, rendah, dsb tergantung selera. Sebagai modal membentuk
mood tersebut, kita perlu mengerti bacaan histogram foto untuk menentukan seberapa besar koreksi kita butuhkan. Tips membaca exposure foto melalui histogram bisa anda baca
disini.Jadi tidak harus seperti contoh dibawah, silakan pilih besaran parameter perubahan yang anda inginkan.
Gambar 2. Foto sebelum diolah.Langkah-langkah olah digital dasar yang saya lakukan sebagai berikut:
a. Membaca histogram level.Pola gunungan histogram sudah cukup baik, hanya kaki lembah sebelah kanan masih cukup jauh dari titik
highlight yang membuat foto ini masih sedikit
underexposure dan tampak pucat.

Gambar 3. Histogram level.b. Adjusment level.Untuk mengkoreksinya saya menggeser segitiga
highlight di sebelah kanan secara perlahan kekiri sambil memperhatikan perubahan pada kontras foto. Jika anda mau, ada bisa juga bereksperimen dengan menggeser titik
midtone ditengah ke kanan atau kekiri untuk memperoleh
mood yang diinginkan.
Gambar 4. Saya menggeser titik highlight kekiri.c. Adjusment saturasi.Untuk besaran saturasi tergantung selera. Namun untuk koreksi dasar saya biasanya tetap ingin foto terlihat wajar atau natural. Dengan natural, akan mudah bagi anda untuk melakukan perubahan-perubahan apapun nantinya.
Gambar 5. Saya meningkatkan saturasi master sedikit saja.d. Croping.Crop terbaik memang sebaiknya dilakukan ketika memotret, karena piksel tidak berkurang dan kualitas foto terjaga. Namun kondisi dilapangan tidak selamanya memungkinkan. Keputusan crop justru kadang baru bisa kita tentukan setelah membuka foto di komputer.
Gambar 6. Saya melakukan crop kurang dari 15% agar kualitas foto tetap baik.e. Save AsSetelah selesai, simpanlah foto dengan membuat
copynya (shift + ctrl + s) dan simpan dalam kualitas terbaiknya. Dengan cara ini file asli tetap ada dan anda bisa pergunakan kembali jika butuh
adjusment baru.
Gambar 7. Save As 12, pada kualitas terbaiknya.f. SharpeningSharpening hanya saya lakukan ketika butuh
output foto (mencetak, upload internet, dsb), tidak pada saat pengolahan. Karena proses
sharpening berkali-kali bisa memunculkan artefak yang membuat foto cacat.
Gambar 8. Saya memakai smart sharpening dengan radius dan amount yang tidak terlalu besar.Berikut hasil akhir foto setelah melalui proses olah digital dasar, tampak lebih 'hidup':
Gambar 9. Hasil akhirLangkah-langkah tadi bisa saja ditambahkan dengan mengatur
brigthness/ contrast, curvemaupun
white balance melalui fitur
color balance. Jadi tergantung kebutuhan anda. Untuk
dodge/ burning akan saya uraikan pada tips berikutnya. Teknik yang dipakai sejak jaman Ansel Adam ini bertujuan untuk menguatkan hal-hal yang ingin tonjolkan dan mengurangi kekuatan beberapa elemen.
Olah digital dasar yang saya uraikan diatas sangat sederhana. Foto-foto sekelas World Press Photo maupun fotografer ternama dunia banyak fotonya yang diolah melalui proses yang lebih rumit dan kecermatan tinggi. Bagi saya teknologi olah digital bukanlah sesuatu yang haram. Dibutuhkan kebijaksanaan dan kejujuran dalam mempraktekannya. Setiap foto mempunyai tempatnya masing-masing. Jadi ketika mengolah foto, ketahuilah akan kemana foto itu anda bawa nantinya. Apakah dia masuk jurnalistik,
nature, fine art, experimental dsb.
Terlihat panjang ketika diurai tahap demi tahap prosesnya. Namun jika sudah terbiasa hanya butuh waktu sekitar 1-2 menit per foto. Mudah-mudahan sharing ini bermanfaat kawan, jika ingin memberi komentar, bertanya atau sharing pengalaman silakan pakai kolom Coment dibawah.
Terus Kreatif!